Perusahaan rintisan atau startup mungkin merupakan salah satu istilah yang sangat ngetren beberapa tahun belakangan ini. Bahkan mungkin tak sedikit dari kita yang terlibat di dalamnya entah itu sebagai karyawan atau bahkan menjadi founder dari sebuah startup. Dan banyak juga saat ini diantara kita yang masih dalam tahap akan mendirikan sebuah startup.

Mendirikan sebuah startup mungkin terkesan mudah bagi sebagian orang. Akan tetapi untuk mendirikan sebuah startup dan bisa survive serta berkembang dengan baik tentunya merupakan cerita lain.

Tidak mengherankan jika kemudian banyak kita temui cerita sebuah startup yang harus tutup padahal baru berumur 1 tahun atau bahkan kurang. Tak sedikit juga start up yang sudah mendapatkan pendanaan cukup besar akan tetapi tidak bisa tumbuh dengan baik dan berakhir tutup.

Untuk menjadikan sebuah startup bisa survive dan tumbuh berkembangn dengan baik tentunya dibutuhkan beberapa hal. Masalah pendanaan mungkin merupakan salah satunya. Karena tanpa keuangan yang baik sebuah startup tentunya akan sulit untuk mengembangkan usahanya. Untuk masalah pendanaan ini startup bisa memperolehnya dari berbagai macam sumber. Mulai dari modal dari para pendiri atau pemilik startup, suntikan modal dari investor maupun pinjaman dari lembaga keuangan seperti bank dan yang sejenisnya.

Meski aspek modal atau keuangan merupakan salah salah satu hal utama tapi itu bukan satu satunya. Karena jika hanya mengandalkan soal keuangan saja atau hanya mengejar pendanaan dari investor / venture capital  bisa bisa pada akhirnya startup hanya menjadi ajang bakar duit saja tanpa ada imbal balik yang sebanding. 

Ada beberapa aspek lain yang bisa mempengaruhi berhasil tidaknya sebuah startup untuk bisa bertumbuh dengan baik. Beberapa hal tersebut antara lain adalah soal orang orang yang ada di startup tersebut, strategi yang dipakai dan lain sebagainya.

Untuk orang orang yang ada pada sebuah startup baik terutama para founder tentu saja harus memiliki kredibilitas yang bagus dan dapat dipercaya. Tak hanya itu saja founder sebuah startup juga perlu memiliki visi untuk memajukan startup dan mampu mengambil keputusan dengan baik.

Untuk bisa mendapatkan semua itu tentu perlu waktu yang cukup lama dan tidak instan. Dan jika diperlukan maka para founder ini juga perlu untuk memiliki mentor yang sesuai sehingga bisa lebih terarh. Untuk mendapatkan mentoring ini bisa dilakukan dengan berbagai cara misalnya saja dengan mengikuti beragam coaching tentang startup yang ada.

Salah satu coaching untuk founder startup yang bisa anda ikuti adalah program Founder’s Camp dari startup studio Indonesia. Program ini sendiri merupakan sebuah program diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dalam rangka  memfasilitasi startup digital yang sudah mencapai tahap product-market fit dan memiliki founder yang potensial. Untuk info lebih lanjut tentang Founder’s Camp dari startup studio Indonesia anda bisa klik di sini.

Dengan mengikuti program ini tentu saja diharapkan para founder startup digital ini bisa menjadi seorang founder yang mampu berorientasi terhadap produk sehingga produk atau layanan yang ditawarkan startupnya bisa menjadi solusi dari permasalahan penggunanya. Orientasi terhadap produk ini salah satunya bisa diterapkan dengan terus memperbaiki atu menyempurnakan produk dari startup tersebut. Dengan begitu produk dari startup tersebut nantinya akan mencapai product market fit.

Selain itu dengan mengikuti founder’s camp seorang founder tentunya diharapkan untuk bisa membangun sebuah tim yang solid dan handal untuk startupnya.  Tim yang solid ini bisa dibangun dengan menempatkan orang orang sesuai dengan kompetensinya . Dan tentunya masing masing bagian dari tim bisa bekerjasama dengan baik.